‘Ada apa CIA dan Indonesia’
Sebuah
dokumen CIA yang berklasifikasi sangat rahasia (Top Secret) saat ini (2010) bocor
ketangan wartawan, heboh serta mudah
dilacak dengan mesin pencari google. Dokumen itu berupa laporan CIA ke Pentagon
yang sebenarnya akan diteruskan ke gedung putih. Dokumen itu terkait rencana
penyerangan AS ke Indonesia agar dipertimbangkan kembali, terkait mahalnya
biaya akibat peperangan tersebut jika benar-benar pecah.
------------------------------
Indonesia,
sebenarnya sudah lama dijadikan target operasi sejak tahun 1945-1955---AS
berusaha untuk mendekati berbagai kalangan dinegeri ini. Ditahun-tahun itu
upaya Washington masih sebatas mencari akses untuk membangun pangkalan militer.
Tetapi, setelah Bung Karno menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika di Bandung
tahun 1955, muncul kekhawatiran AS terhadap terseretnya Indonesia ke blok
komunis. Dalam periode itu CIA mulai melancarkan operasi besar-besaran baik
dengan cara overt (terbuka) maupun covert (tertutup).
Pada akhir
tahun 1950, Washington merasa sulit berhadapan dengan Bung Karno, sulit
membangun kompromi politik, dan Bung Karno menurut catatan CIA sudah terlanjur
di cap anti AS.
Washington
frustasi menghadapi Bung Karno, akahirnya CIA kemudian ditugaskan untuk
menyingkirkan Presiden pertama Indonesia itu dari kekuasaannya. CIA melancarkan
operasi, sebuah topeng mirip Bung Karno dikirim ke Hollywood, lalu dipakai
seorang bintang film porno yang sedang beraksi, tulis Barry Hillebrand,
wartawan time yang tertulis begitu apik dalam buku Legacy of Ashes the History
of CIA. Lalu foto mirip Bung Karno yang sedang bermain film panas atau porno
itu disebar luaskankan di Indonesia. Tetapi CIA salah perhitungan, tidak
seorangpun di Indonesia---percaya atas peran Bung Karno dalam film porno
dimaksud, operasi itu gagal.
Operasi
rahasia CIA kedua adalah menyuplai dana, senjata dan personal untuk
pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatra dan Sulawesi tahun 1957. Tapi Bung Karno
menumpas habis pemberontakan itu dengan menugaskan Ahmad Yani, salah seorang
pahlawan revolusi untuk menumpas pemberontakan itu. Bahkan sebuah pesawat
pengintai milik CIA yang dipiloti Allen Pope berhasil ditembak jatuh TNI.
Operasi CIA kedua gagal.
Operasi
ketiga, CIA mencoba membujuk Bung Karno untuk keluar dari komunisme dengan cara
membantu Bung Karno dalam upaya perebutan Irian Barat dari tangan Belanda. Tapi
upaya membujuk Bung Karno itu gagal lagi, karena Bung Karno tetap dalam
sikapnya menolak kompromi dengan AS. Ditengah frustasinya AS dalam menghadapi
Bung Karno, maka CIA melancarkan operasi terbuka untuk membunuh karakter
politik Bung Karno.
Pengganti
Kennedy, Presiden Lyndon Johnson mengutus Ellworth Bunker ke Jakarta bulan
April tahun 1965. Ada satu pertimbangan CIA yang tertulis oleh tim Weiner, jika
Bung Karno dibunuh secara wajar maka komunisme akan menguasai Indonesia dan
mengambil alih kekuasaan.
Olehnya
itu, Bung Karno cukup dibunuh dengan tidak wajar, dengan cara menyingkirkan
Bung Karno dari kekuasaannya. Akhirnya menurut peneliti for defense Information
(AS), David Johnson peristiwa tahun 1965/1966 adalah upaya CIA untuk membunuh
karakter politik Bung Karno dan komunisme sekaligus. Menurut peneliti David
Johnson, alasan komunisme yang paling tepat untuk menumbangkan Bung Karno, komunisme
dijadikan sebagai kambing hitam, dan terjadi fragmentasi politik yang hebat, (Tim
Weiner, Legacy of Ashes the History of CIA halaman xv).
----------------------------
Dalam buku
lain diantaranya ‘Surrendering to symbol’ oleh Stig Aga Aanstad, buku ‘Pretext
for Mass Murder: the September 30th Movement & Suharto’s Coup d’Etat in
Indonesia oleh Jhon Roosa, dan buku Soekarno and the Indonesia Coup: the Untold
Story oleh Helen-Louse Simpson Hunter. Aanstad menulis bukunya---berdasarkan
disertasi, Roosa seorang Indonesia asal AS yang cukup terkenal dan Hunter
pernah bekerja sekitar 20 tahun untuk CIA. Ketiga penulis itu mengupas tuntas
operasi CIA di Indonesia, termasuk uraian yang begitu sistematis tentang
peristiwa tahun 1965/1966.
Ketiga
penulis itu---menyuguhkan tulisan yang menarik, antara lain seputar
keberhasilan dalam keterlibatan CIA dalam menumbangkan Soekarno dan komunisme
dengan menunggangi tentara (TNI) dan sejumlah politisi nasional tahun
1965/1966. Isi ketiga buku itu diulas tuntas dalam buku Legacy of Ashes the
History of CIA oleh tim Weiner, 2007. Buku setebal 833 halaman ini mengulas
tuntas operasi CIA di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Kenapa AS
menjadikan Indonesia sebagai salah satu target dari operasi CIA? Dan apa
kepentingan AS terhadap Indonesia?. Indonesia menempati posisi strategis dalam
kawasan Asia-Pasifik, dan pergaulan politik internasional. Karena begitu
strategisnya Indonesia, maka sampai kapanpun AS tetap berkepentingan besar
untuk beroperasi di Indonesia.
Indonesia---sebuah
negara strategis merupakan taruhan besar bagi kepentingan nasional AS yang
mutlak mesti diamankan agar tidak jatuh ketangan musuh-musuh ideologis AS.
Mereka akan tetap melakukan semua cara untuk mempertahankan kehadirannya di
Indonesia, Asia Tenggara dan Asia-Pasifik. Tujuan AS dikawasan ini adalah
menciptakan stabilitas dan perdamaian yang menguntungkan kepentingan nasional
Amerika.
Begitu
penting dan mahalkah Indonesia dimata AS, sehingga Indonesia perlu
diporak—porandakan demi kelanggengan dan kepentingan AS?. Jika ditahun
1965/1965 komunisme dikambing hitamkan untuk meluluhlantakan Indonesia. Karena
Amerika Serikat (AS) begitu khawatir terhadap ancaman komunisme internasional
sejak pecahnya revolusi Rusia tahun 1917. Benarkah Terorisme, konflik SARA
diberbagai daerah di Indonesia, munculnya RMS di Ambon mencoba
memporak---porandakan Indonesia juga bahagian dari operasi CIA? Karena
konflik-konflik itu telah melumatkan sekian juta manusia Indonesia dipanggung
sejarah. Dan suara-suara pesimistis menyimpulkan bahwa sekali SARA berperan
dalam konflik dan pertikaian, sulit rasanya keluar dari luka-luka sosial, dan
menaruh dendam sejarah yang panjang. Dan potensi ini sangat mungkin ditunggangi,
karena memiliki potensi dan peta konflik yang sensitif dan mudah terbakar,
demikian pula dianalisis dari fragmentasi politik Indonesia.
Jika benar
demikian, maka warga bangsa, Indonesia boleh dikata telah kehilangan jati diri,
karakter diri dan identitas diri ke-Indonesia-an. Pluralitas di Indonesia
adalah fakta kepelbagaian yang lahir secara alami dan berdasar hukum alam; ras,
warna kulit, suku, agama, budaya, jenis kelamin dan asal usul kebangsaan.
Karena
pluralitas bukan sebuah pilihan tapi adalah sebuah anugerah dari Tuhan Yang
Maha Kuasa. Olehnya tidak ada yang salah dalam pluralitas. Pluralitas bukan
negative good, yang terkadang digunakan untuk menyingkirkan fanatisme semu (to
keep to fanaticism at bay), tapi pluralitas difahami sebagai pertalian sejati
dalam merajut kesejatian diri dalam hidup yang terbingkai dalam kebinekaan
tunggal ika. Ben Anderson mengatakan; Faham kebangsaan (nasionalisme) lahir
bukan untuk mengusung kepentingan sebuah ras, agama, komunitas, atau daerah
tertentu, melainkan untuk sesuatu yang dibayangkan. Bayangan pemikiran Ben Anderson
dalam tesis itu---menggambarkan bangsa ini sebuah komunitas, yang sedari awal
mereka tidak saling mengenal, tidak saling mengetahui, tidak pernah bertemu
antara satu dengan yang lain. Tapi diantara mereka dari sabang sampai merauke,
dari pulau Nias hingga pulau Rote---ada ikatan emosional ke-Indonesia-an, ada
semangat persaudaraan horizontal.
Dengan
itu, walau disadari bahwa CIA sejak awal pembentukannya---memang ditugaskan
untuk mengintai, mencegah meluasnya kepentingan lain diberbagai belahan dunia---termasuk
Indonesia yang berusaha untuk mengganggu
kepentingan AS. Tapi itu bukan alasan yang tepat bagi CIA, Washington, Gedung
Putih dengan seenak hati memporak-porandakan kedaulatan negeri ini, membuat
tercerai—berai hanya karena kekhawatiran atas terganggunya kepentingan AS
dipentas dunia.
Olehnya,
dengan adanya bocoran singkat dari CIA itu---menggugah kita generasi Indonesia
perlu merekonstruksi diri---agar lebih matang dalam menjawab tantangan zaman
dan bahaya terbesar yang ada didepan mata untuk negeri ini. Menilik secara
cermat perjalanan panjang bangsa ini---telah menjadi kemestian sejarah, agar
kita tidak salah kaprah dalam menafsirkan setiap problem bangsa. Setiap problem
yang lahir dibangsa ini menuntut kemampuan kita untuk meresponsnya dengan
mengedepankan sikap-sikap pro—aktif positif bukan dengan cara
reaktif---negatif, semoga bermanfaat!.#
Catatan tercecer, tahun 2010, di Kupang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar