Sejarah itu ditulis untuk memahami hal-hal yang terjadi pada masa lampau. Sebagai suatu peristiwa sejarah adalah milik masa lalu dan tak akan kembali lagi. Sebuah peristiwa hanya sekali terjadi dan kemudian kembali menghilang untuk selamanya.
Gadamer
dan Fazlur Rahman melihat sejarah, sebuah
rangkaian peristiwa dan pemaknaan yang tak pernah terputus, karena pemaknaan
sejarah selalu mengacu ke depan meskipun dilakukan hari ini sehingga
sesungguhnya sulit menciptakan jarak antara masa lalu, kini dan esok.
Dulu dan
esok keduanya dipertemukan oleh pemaknaan hari ini oleh subyek pelaku dan
penafsir sejarah itu sendiri, (Komaruddin Hidayat, 1996: 196).
Perkaderan
formal di HMI tidak lahir berbarengan dengan kelahiran HMI 5 Februari 1947, melainkan
lahir seiring proses waktu dan perubahan zaman. Perkaderan formal HMI, dirintis di masa Ismail Hassan Matereum (Ketua HMI, periode 1957-1960), dan itupun
masih dalam batas wacana-wacana yang digulirkan PB HMI.
Ismail
Hasan Matereum adalah penggagas ide perkaderan formal HMI, kehendaknya agar HMI
tidak sekedar menjadi tempat kumpul orang-orang yang punya kesamaan hoby atau
aktivitas saja, tapi menjadi second campus bagi para kadernya. Faktor penting
pendorong gagasan diadakannya perkaderan formal HMI karena waktu itu Ismail
Hasan Matereum melihat adanya perbedaan aliran pemikiran dalam dinamika
pergerakan aktivitas HMI, dimana ada anggota yang punya background dari lingkungan
pesantren dan ada juga yang cenderung sekuler (abangan).
Selain
itu, adanya perbedaan para anggota HMI yang datang dari berbagai lingkungan
Ormas semisal NU, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Oleh karenanya, Ismail
Hasan Metareum punya obsesi untuk bisa mengambil persamaan serta
mengembangkannya dari para anggota HMI agar mampu menciptakan suatu sinergitas
pemikiran dan gerakan hingga menjadi satu kesatuan dalam tubuh HMI yang
diharapkan menjadi ciri khas dan karakteristik para kadernya.
Untuk
mensinergikan itu, maka difasilitasilah berbagai forum pendidikan dan pelatihan
untuk para kader HMI agar bisa mempersatukan visi dan mensinergiskan pemikiran
kader HMI. Selain itu, diharapkan agar dengan forum seperti itu bisa
menciptakan komunikasi antar kader yang berujung pada terwujudnya ukhuwah Islamiyah
sesama kader HMI. Dalam suatu kesempatan dia pernah menjelaskan secara detail
maksud tujuan dan teknis pelaksanaan dari sistem perkaderan itu, dimana diungkapkan
perlunya suatu sistem yang bertingkat dalam pelatihan sesuai dengan taraf
kemampuan kader, dengan aksentuasi materinya pada masalah keorganisasian dan
keislaman. Hal inilah yang menjadi dasar dan landasan awal dari sistem
perkaderan HMI, karena sejak saat itu perkaderan menjadi trademark dikalangan
kader HMI meskipun format yang idealnya belum terwujud.
Untuk
meningkatkan taraf kualitas perkaderan serta membuat format perkaderan ideal
yang cocok bagi HMI, maka PB HMI mengutus beberapa anggotanya untuk melakukan
pengkajian mengenai masalah tersebut ke beberapa organisasi di luar negeri. Kader-kader
HMI itu diantaranya Aisyah Amini, Mahbub Junaedi, Mahmud Yunus, dan Munir Kimin
yang berangkat ke Aloka, India.
Sedangkan
Noersal dan Ibrahim Madilao ke Amerika Serikat sekaligus memanfaatkan undangan
pemerintah dari Negara itu (Amerika Serikat). Selain ke luar negeri, PB HMI
juga melakukan studi dan pengkajian secara teoritik dan empirik di dalam negeri.
Hasil dari kunjungan dan kajian itu dicurahkan dalam suatu forum lokakarya yang
diadakan PB HMI di Baros Sukabumi tahun 1959, khusus membicarakan format
perkaderan HMI.
Sejak
peristiwa itu, HMI sudah mempunyai format baku dalam perkaderan meskipun belum
sempurna. Penyempurnaan hasil lokakarya pertama ini dilakukan pada masa
kepengurusan Oman Komaruddin (periode 1960-1963) dengan mengadakan forum
seminar dan lokakarya perkaderan kedua di Pekalongan tahun 1962.
Hasil-hasil
forum tersebut kemudian disempurnakan lagi dan disahkan menjadi format
perkaderan baku yang mempunyai sistem perkaderan berjenjang pada kongres HMI ke
VII tahun 1963 di Jakarta. Sejak saat itu HMI menjadi organisasi pertama di
Indonesia yang mempunyai sistem perkaderan formal yang baku, lengkap, berjenjang.
Penyempurnaan format perkaderan terus dilakukan HMI sebagai bentuk konsistensi
HMI akan fungsinya, dengan harapan semakin baik format perkaderan maka
outputnya semakin berkualitas.
Pada
masa Sulastomo (periode 1963-1966) dan Nurcholis Madjid (periode 1966-1971)
sistem perkaderan ini tidak hanya sebagai bentuk formal penyaringan anggota dan
peningkatan kualitas kader saja melainkan diperluas lagi sebagai salah satu
prasyarat yang harus dipenuhi para calon pengurus HMI dari PB sampai Komisariat.
Sehingga tidak sembarang kader yang bisa jadi pengurus, tetapi harus melewati
jenjang tertentu dalam perkaderan formal. Sejak zaman Cak Nur (1967) sampai
tahun 1999 tercatat sudah beberapa kali sistem perkaderan mengalami perubahan.
Pada
tahun 1970 (zaman Cak Nur) di Pekalongan, sebagai upaya penyempurnaan dan
rekomendasi kongres HMI ke IX di Malang, dimana keputusan pentingnya bahwa
setiap yang namanya training di HMI harus mengacu pada buku format perkaderan
yang sudah dibuat.
Pada tahun 1975 (zaman Ridwan Saidi) di Kaliurang Yogyakarta, sistem perkaderan saat itu banyak dipengaruhi oleh munculnya gerakan pembaharuan keagamaan di Indonesia yang dipelopori Cak Nur, selain itu sedang hangatnya gerakan–gerakan Islam internasional terutama di kawasan Timur Tengah.
Tahun 1983 (zaman Harry Azhar Azis) di Surabaya, pada masa ini banyak dipengaruhi oleh kondisi ketegangan antara umat Islam dengan pemerintah Orba, selain itu wacana developmentalisme yang dikembangkan Orba juga sedikit banyaknya mempengaruhi sisitem perkaderan HMI. Revolusi Islam Iran sedikit banyak mempengaruhi semangat dan antusiasme ber-Islam dikalangan generasi muda Indonesia termasuk para kader HMI.
Pada tahun 1988 (zaman Saleh Khalid) di Cianjur dan Jakarta, akibat terjadinya perubahan internal yang mendasar dalam tubuh HMI, salah satunya perubahan azas, maka dipandang perlu untuk merevisi sistem perkaderan HMI yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan zamannya. Selain itu gerakan depolitisasi mahasiswa di kampus oleh Orba dan berkembangnya logika modernisasi turut andil dalam mempengaruhi sistem perkaderan saat itu.
Pada tahun 1992 (zaman Ferry Mursidan), sistem perkaderan hanya mengalami sedikit perubahan dan saat itu dipengaruhi oleh membaiknya kondisi politik antara umat Islam dan Orba yang ditandai dengan munculnya ICMI. Namun itu hanya pada konteks Islam ibadah belum ke Islam politik. Selain itu jargon pembangunan di segala bidang menjadi isu sentral masa itu sehingga sedikitnya mempengaruhi sistem perkaderan HMI.
Pada tahun 1997 (zaman Taufik Hidayat) di Jakarta, saat itu dipengaruhi oleh iklim politik Indonesia yang sudah mulai goyah akibat adanya akumulasi kekecewaan terhadap pemerintah Orba.
Tahun 2000 (zaman Fakhrudin) di Jakarta, sejak HMI menggunakan kembali Islam sebagai azasnya (kongres XXII di Jambi) maka sudah pasti ada banyak perubahan yang terjadi di HMI. Pedoman perkaderan sebagai salah satu hal yang dijadikan landasan bagi aktifitas HMI, sudah barang tentu mengalami perubahan yang diakibatkan oleh perubahan azasnya. Pendorong utama lokakarya pada masa ini adalah mengantisipasi perubahan azas di HMI, sekaligus membuat rancangan strategis bagi HMI pasca perubahan azas dan dalam menghadapi perubahan zaman.#
Pada tahun 1975 (zaman Ridwan Saidi) di Kaliurang Yogyakarta, sistem perkaderan saat itu banyak dipengaruhi oleh munculnya gerakan pembaharuan keagamaan di Indonesia yang dipelopori Cak Nur, selain itu sedang hangatnya gerakan–gerakan Islam internasional terutama di kawasan Timur Tengah.
Tahun 1983 (zaman Harry Azhar Azis) di Surabaya, pada masa ini banyak dipengaruhi oleh kondisi ketegangan antara umat Islam dengan pemerintah Orba, selain itu wacana developmentalisme yang dikembangkan Orba juga sedikit banyaknya mempengaruhi sisitem perkaderan HMI. Revolusi Islam Iran sedikit banyak mempengaruhi semangat dan antusiasme ber-Islam dikalangan generasi muda Indonesia termasuk para kader HMI.
Pada tahun 1988 (zaman Saleh Khalid) di Cianjur dan Jakarta, akibat terjadinya perubahan internal yang mendasar dalam tubuh HMI, salah satunya perubahan azas, maka dipandang perlu untuk merevisi sistem perkaderan HMI yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan zamannya. Selain itu gerakan depolitisasi mahasiswa di kampus oleh Orba dan berkembangnya logika modernisasi turut andil dalam mempengaruhi sistem perkaderan saat itu.
Pada tahun 1992 (zaman Ferry Mursidan), sistem perkaderan hanya mengalami sedikit perubahan dan saat itu dipengaruhi oleh membaiknya kondisi politik antara umat Islam dan Orba yang ditandai dengan munculnya ICMI. Namun itu hanya pada konteks Islam ibadah belum ke Islam politik. Selain itu jargon pembangunan di segala bidang menjadi isu sentral masa itu sehingga sedikitnya mempengaruhi sistem perkaderan HMI.
Pada tahun 1997 (zaman Taufik Hidayat) di Jakarta, saat itu dipengaruhi oleh iklim politik Indonesia yang sudah mulai goyah akibat adanya akumulasi kekecewaan terhadap pemerintah Orba.
Tahun 2000 (zaman Fakhrudin) di Jakarta, sejak HMI menggunakan kembali Islam sebagai azasnya (kongres XXII di Jambi) maka sudah pasti ada banyak perubahan yang terjadi di HMI. Pedoman perkaderan sebagai salah satu hal yang dijadikan landasan bagi aktifitas HMI, sudah barang tentu mengalami perubahan yang diakibatkan oleh perubahan azasnya. Pendorong utama lokakarya pada masa ini adalah mengantisipasi perubahan azas di HMI, sekaligus membuat rancangan strategis bagi HMI pasca perubahan azas dan dalam menghadapi perubahan zaman.#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar