Lembata (NTT) jika saja dua
periode pertama dilewati dengan baik, terencana dan sitematis dengan
menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan Iptek, maka kita
akan tertolong lebih ringan dalam menapak periode ketiga, 2011. Kekeliruan kita
adalah tidak meletakkan unsur kekuatan SDM dan Iptek secara benar dalam rencana
pembangunan daerah. Andai, kita meletakkan SDM dan Iptek secara benar, maka
dalam hitungan periodisasi lima belas tahun (tiga periode) kita sudah mampu merintis
pembanguan tekhnologi berdasar keunggulan-keunggulan lokal yang kita miliki.
Karena asumsi yang diletakkan
dalam jangka panjang, keberhasilan pembangunan hanya dapat ditentukan oleh
kualitas manusianya, bukan pada melimpah ruahnya kekayaan alam. Singapura,
Jepang, Korea adalah negara-negara miskin sumber daya alam, demikian juga Bali,
Jawa yang juga minim sumber daya alam, tapi karena mengembangkan Iptek dan
memanfaatkan SDM dengan kualitas tinggi sebagai unggulan komparatif, maka
daerah-daera itu tergolong sukses dan mampu menghasilkan produk-produk yang
menembus pasar regional, dunia. Disini terbukti pentingnya tekhnologi, yaitu
SDM yang menguasai Iptek.
SDM yang menguasai Iptek adalah
modal, dan diharapkan mampu menciptakan dan pembentukan modal lain.
Pengembangan tekhnologi dapat dihasilkan dari peningkatan organisasi dan
kelembagaan. Upaya-upaya seperti mengembangkan lembaga pendidikan, litbang,
ristek dan diharapkan memasyarakatkan hasil-hasil riset kepada masyarakat pemakai
adalah juga usaha pengembangan tekhnologi. Dengan pembangunan SDM dan Iptek
secara baik didaerah, maka kita akan memperoleh economy efficiency dan mendapatkan nilai tambah secara murah.
Inilah pendekatan SDM dan Iptek yang seharusnya dilakukan dalam periode sebelum
dengan cermat.
Olehnya itu, kita harus
membutuhkan waktu yang panjang untuk memikirkan pembentukan SDM yang menguasai
Iptek sebagai modal daerah masa depan, dengan cermat, sistematis dan terencana.
Jika 2011 adalah awal perintisan, perencanaan maka hasilnya baru dapat
dirasakan sekitar 10 atau 20 tahun mendatang. Untuk antisipasi kelangkaan SDM
yang menguasai Iptek, maka kebijakannya adalah mengimpor SDM unggulan dari
daerah lain sekalipun dibayar dengan biaya mahal untuk menopang perencanaan,
pembangunan termasuk perencanaan komprehensip pembangunan ekonomi daerah.
SDM yang menguasai Iptek, mungkin
terlalu jauh kita bicara soal bio-tech
atau genetic engineering yang digunakan
membuat mangga, pisang, jambu, kelapa atau umumnya hasil perkebunan yang
dihasilkan, tapi dengan keunggulan SDM dan Iptek yang kita miliki dapat membuat
keunggulan produk lokal memiliki nilai tambah bagi daerah dan penghidupan warga.
Dengan hitungan urusan tekhnologi murah itu, maka tidak susah untuk digarap
dari sekarang, dengan memanfaatkan hasil perkebunan, pertanian, perikanan yang
dimiliki oleh kita, yang rata-rata memiliki nilai yang tidak kalah beda dengan
daerah lain, kita mampu berdiri sejajar dengan daerah-daerah yang sudah lebih
dulu maju. Olehnya itu, gerakan; tanam, petik olah, jual (tapol) digerakan dan
tentu disiapkan berbagai sub system yang dapat menopang keberlanjutannya.
Kalau ada orang yang sudah
pernah ke Lembata atau NTT umumnya, dan menumpang bis angkot kota dan luar
kota, telinga kita seolah pecah dengan musik yang diputar, sekalipun daerah ini
tidak memiliki satupun produksi musik diwilayah ini. Atau mesin diesel yang
rusak sekalipun yang rusak hanya baut, tapi kita mencarinya adalah ditoko-toko,
tapi tidak pernah menggugah kita kapan kita bias memproduk baut seperti yang
terjual ditoko itu. Atau kita bisa menggalakkan kekuatan local dengan mBok Berek untuk menahan masuknya
tekhnologi KFC (kentucky fried chicken)
dengan memanfaatkan keunggulan-keunggulan lokal kita. Atau kita mampu memproduk
masakan khas ikan ala ikan bakar Solo yang trend, kita punya keunggulan;
misalnya ikan kerapu, tuna, udang, cumi dstnya, setiap malam kisaran antara
5-10ton nelayan menangkapnya. Tapi mau dibawah kemana ikan semua itu yang
memiliki kualifikasi eksport?. Ini contoh kecil, yang menggugah kita dalam
pembentukan SDM yang menguasai Iptek dalam ukuran waktu jangka panjang.
Disinilah dibutuhkan SDM yang
memiliki arti dan upaya mengangkat manusia dari kemiskinan, daripada
menghasilkan konglomerat erzatz yang
hanya tahu mengimpor tekhnologi tanpa gairah mengembangkan tekhnologi sendiri.
Profesionalisme
SDM dimaksud, adalah
orang-orang memiliki profesi/keahlian, kita harus berani memulai dengan gerakan
profesionalisme. Para ilmuwan seperti dokter, apoteker, insinyur, ahli ekonomi,
ahli hukum, ahli perencanaan, ahli keuangan dan sebagainya digolongkan kedalam
full profesionall. Sedangkan para wirausaha, guru-guru, karyawan kantor,
orang-orang mekanik, ahli-ahli listrik dan lain-lain digolongkan kedalam
sub-profesionals.
Para profesional dikenal
sebagai high-level manpower yang
mempunyai unsur, yang dalam ekonomi pembangunan disebut dengan residual. Residual inilah unsur utama
meningkatkan kualitas kerja, sehingga pengaruhnya sangat terasa dalam multi
fungsi. Dengan penambahan kualitas kerja tersebut sebagai input, maka output
akan menjadi meningkat lebih besar dalam skala tertentu.
Profesionalisme mengandung
tiga unsur pengertian yang erat kaitannya satu dengan yang lain, yaitu; 1)
kapasitas atau stok keahlian yang bersumber pada ilmu pengetahuan dan
tekhnologi, 2) moral atau etika, dan perilaku dan tindak tanduk, baik secara
individu maupun kelompok, 3) pelayanan terhadap orang, masyarakat atau
lingkungan.
Manusia yang profesional,
dengan demikian, dianggap sebagai manusia berkualitas yang memiliki keahlian
serta berkemampuan mengekspresikan keahliannya itu bagi kepuasan orang lain
atau masyarakat dengan memperoleh pujian. Ekspresi
keahlian tersebut tampak dari perilaku, analisisnya dan keputusan-keputusannya.
Uang dianggap bukan unsur
utama, bahkan bisa sama sekali bukan unsur, tetapi sekedar pernyataan pujian
atas pelayanan atau suguhan yang memuaskan (marketable).
Demikianlah hasil kerja profesional selalu memuaskan orang lain dan oleh sebab
itu, orang akan rela membayar dengan harga tinggi. Dengan demikian, hasil kerja
profesional selalu mempunyai nilai tambah yang tinggi. Oleh sebab itu,
profesional selalu dikaitkan dengan efesiensi dan keberhasilan, dan menjadi
sumber bagi peningkatan produksi, pertumbuhan, kemakmuran dan kesejahteraan,
baik dari individu pemilik profesi maupun masyarakat dilingkungannya.
Membangun daerah tentu
membutuhkan unsur-unsur profesionalisme dengan ciri profesioanl, seperti
kenalaran, kordinasi, keutuhan dan kecermatan, serta kesahajaan. Seorang
profesional tidak membutuhkan peralatan yang canggih seperti mesin hitung yang
mampu menghitung dan menyuguhkan data secara tepat dan cepat, tetapi orang
profesional seringkali hanya dengan nalar dan logikanya.
Berdasarkan itu, dia sudah
mampu melihat secara baik persoalan yang dihadapi, dan dari situ mengembangkan
berbagai alternatif pemecahannya, serta memilihnya yang terbaik. Bayangkan ia
seorang dokter yang memeriksa pasiennya ditempat yang pelosok, cukup dengan
mendengar keluhannya pasien, ia sudah tahu penyakit apa yang diderita. Jika
dokter tahu penyakitnya maka apoteker tahu obatnya, siklus seperti ini akan
selalu dinamis dan berkembang.
Yang dihadapi oleh seorang
profesinal adalah bagaimana mengkordinasikan berbagai subsistem, baik dalam
skala mikro seperti contoh dokter diatas, maupun dalam skala makro seperti
pembangunan ekonomi yang menyangkut alokasi sumber daya manusia, peralatan dan
modal. Dari kordinasi ini akan dihasilkan suatu prakarsa yang berarti dan
berguna bagi manusia dan kemanusiaan.
Dalam upaya memperoleh
kesimpulan atau mencari bangunan jawaban yang terbaik, seorang profesional
seringkali harus membuat rancangan. Rancangan dibuat secara cermat dan utuh,
sehingga selesai dan tak ada yang tertinggal, lengkap tidak setengah-setengah
atau parsial.
Demikian pula, seorang
profesional seringkali bekerja dengan peralatan yang minim, sehingga cukup
membuat sketsa atau model dari keadaan dunia yang nyata dan pelik.Yaitu,
simplifikasi atas bangun dan perilaku dunia nyata kedalam bentuk yang sederhana
(sahaja) dan mudah dimengerti. Yaitu, suatu model yang mirip dengan bentuk
aslinya, baik secara statis maupun dinamis, sehingga harus sahih (valid) dan
handal (reliable). Demikian model pembangunan juga harus dirancang melalui
model-model yang bisa membawa kepada tujuan pembangunan.
Apa yang ada didunia ini pada
hakekatnya, menyangkut berbagai masalah kemanusiaan. Para profesional
dihadapkan pada masalah-masalah untuk memecahkannya. Untuk itu aturan main
seorang profesional dinyatakan dengan langkah-langkah dasar yang merupakan
prosedur analisis sistem. Pertama,
tidak ada analisa yang bisa berlanjut tanpa pernyataan tentang tujuan. Kedua, selanjutnya adalah tidak mungkin
mencapai tujuan tanpa menetapkan ukuran keberhasilan.
Karena maksud dari analisa
adalah mencari pemecahan, maka langkah profesionalisme harus pula diikuti
dengan usaha keras mencari dan menyajikan berbagai alternatif pemecahan.
Masing-masing alternatif harus dikaji dan dinilai satu persatu sebelum,
kemudian, ditetapkan pilihan alternatif yang terbaik.
Selain sedikit jumlah tenaga
kerja yang bisa dikategorikan sebagai profesionalisme di daerah,
langkah-langkah yang menunjukan ciri profesionalisme juga belum membudaya.
Budaya ini mempunyai kaitan erat dengan budaya lingkungan yang disebut dengan
keterbukaan. Budaya simplistis, yang short-cut,
yang asal-asalan, bahkan tidak masuk akal dan terasa sewenang-wenang, telah
menjadi budayanya kebanyakan para birokrat. Apabilagi birokrat yang non
keahlian, kita minim stok tenaga-tenaga profesionalisme. Selain itu, kita juga
diperhadapkan pada berbagai persoalan pelik lainnya, pendidikan sebagai sumber
lahirnya SDM begitu rapuh, kompleksitas masalah yang melilit, bukan hanya
kemauan tapi kemampuan. Untuk mengejar ketertinggalan, kita butuh kematangan
konsep, mampu membangun asumsi, membuat kebijakan dan ulet secara tekhnis
dipelaksanaan.
Untuk kelangsungan
pembangunan dan kelangsungan masa depan daerah sangat ditentukan oleh kemampuan
SDM yang disiapkan dan diperuntukan bagi kesejahteraan daerah, dan mampu
menjamin kerja produktif dipasar tenaga kerja maupun untuk peningkatan
kemampuan karya dan pikirnya untuk pengembangan Iptek itu sendiri. #
Kupang, Juli 2008

KAK INI AKU JAMIL JAWAS ITU BARU MANUSIA MILINIUM AKU SALUT KAKAKU
BalasHapus